Body Shaming? Jangan Panik!

Foto: Pinters

Hai, aku Dennise sudah kenal dong ya he…he…he…

Mo cerita nih tapi ketika masih kecil. Gini, aku tuh memang terlahir sebagai anak montok semuanya. Baik itu pipi (chubby), body montok abis (nyaris gak ada tempat lagi untuk si lemak menempatkan diri, beneran loh) dan rambut yang tebal tapi kaku kaya ijuk. So kalau dilihat secara keseluruhan apakah ada menariknya? Ada! menarik untuk digemesin, kwakkk…

Setiap kali aku jalan aja ada aja tangan orang yang mampir untuk cubit entah itu pipi, tangan, paha.

“Lutu…na pipi bakpao”, ucap seorang tante tetangga rumah sambil cubit pipiku.

“Sakit tante!”, jeritku sambil mengusap-usap pipiku.

Ada cerita menarik nih! Ada tetangga yang ijin sama mamaku untuk ambil aku diajak main. Zaman itu tidak takut ya ada penculikan. Tau gak tetanggaku tuh ajak aku ke warung yang banyak jual makanan anak kecil. Ingat deh saat itu aku ambil permen ojek, permen cicak, ciki-cikian, pokoknya banyak. Aku bebas disuruh ambil apa saja.

“Ayo Butet (panggilan kecilku) bebas mau ambil yang mana”, kata si oom.

Saat itu sih aku senang-senang saja ambil makanan kesukaan di warung si Mpok. Nah, tau gak kawan-kawan apa yang terjadi aku diajak si oom ke rumahnya. Oom Welyar ini memang sayang anak kecil karena sudah lama berkeluarga dengan si tante tetapi belum ada momongan.

“Ma, ini ada si Butet!”, teriak si oom sambil menggendongku. Dengan sigap istrinya langsung menggendongku dengan wajah bahagia.

“Butet dibelikan apa sama oom?”, tanya si tante sambil menciumku sambil tidak lupa mencubit pipi ranumku.

“Pemen”, jawabku belum begitu jelas. Maklumlah masih anak-anak, untuk mengucapkan R agak susah.

“Wiih banyak sekali”, si tante heboh banget. Semua makanan yang dibelikan si oom digelar di meja. Dan aku diberikan kebebasan untuk menyantap semuanya.

Tentunya kawan-kawan bertanya dong kok ada si oom dan tante yang baik padaku? hampir setiap hari aku dijajanin di warung. Selain karena sayang anak kecil mereka mau lihat ekpresiku ketika menikmati makanan. Ha…ha…ha…tau sendiri dong anak kecil endut memang suka makan dikasih makanan kesukaan pastinya lahap. Semua dimakan, pokoknya lucu deh. Si oom dan tante itu sampe terpingkal-pingkal lihat gayaku.

Cerita tentang endut montok apakah zaman itu aku mengalami namanya body shaming? pastinya. Aku tuh gak pernah dipanggil dengan namaku tetapi dipanggil dengan, Dut…dut…atau kalau mau lebih manis lagi dengan sebuatan TeDut alias Butet Endut. Apakah aku nangis? ya! aku protes sama mamaku mengapa dipanggil seperti itu. Apalagi mereka juga gemes cubitin.

Hanya saja masa itu aku tidak terlalu ambil di hati. Nah setelah beranjak besar, SMA aku mulai gak nyaman dengan panggilan yang menghina bentuk tubuh. Aku protes! Bahkan aku pernah di panggil KepSek aku duel dilapangan (parah ya!) sama teman perempuan gara-gara diledekin.

Menurut Wikipedia Body Shaming adalah Celaan fisikcelaan tubuhhinaan fisikpenghinaan fisikejekan tubuhejekan fisikcercaan fisik, atau cercaan tubuh (bahasa Inggrisbody shaming) adalah tindakan mencemooh atau mengejek penampilan fisik seseorang. Cakupan celaan fisik sangat luas dan dapat mencakup celaan gemuk, celaan kurus, celaan tinggi badan, celaan rambut, warna rambut, bentuk tubuh, otot seseorang, atau kekurangannya, celaan penampilan (ciri wajah).

Ternyata, body shaming pun berdampak buruk bagi keadaan psikologis seseorang diantaranya berupa stress, eating disorder, bipolar disorder, serta keinginan untuk bunuh diri.

Mengapa Orang Melakukan Body Shaming?

Usil

Mulut kalau gak dipakai untuk komentari rasanya kurang afdol ya. Ada saja yang dikomentari di depan mata. Walaupun asal keluar dari mulut dan mungkin belum tentu niatnya untuk menyakitkan tetapi tetap saja tidak baik ya. Kalo yang terima moodnya lagi bagus kalau lagi bad mood bisa perang. Misalkan seorang yang rambutnya kribo brekele diledekin “rambut elu kaya sarang tawon ya!” nah aku gak terlalu yakin juga orang yang komentari itu pernah melihat sarang tawon, memang berani ketemu tawon? ha…ha…ha

Mempermalukan

Banyak orang melakukan body shaming ke orang lain tujuannya untuk mempermalukan. Apalagi jika orang tersebut saingannya. Misalnya si Fina ini anak pintar tetapi pelit ketika ada temannya minta contekan di ulangan. Nah,kekurangan Fina yang gendut dan tidak tinggi dimanfaatkan oleh Sisca untuk mengolok-olak. “Si gentong lewat badannya bulat tinggal digelindingin,ha…ha…ha”, sadis banget ya mulutnya.

Post Kolonial

Trend kebule-bule an alias barat ini seringkali menjadi tolak ukur sesuatu yang indah sedap dipandang mata oleh kita, orang Indonesia. Yang tinggi, mancung,putih dinilai sempurna. Sementara yang berkulit gelap, pendek, gendut, hidung pesek tidaklah bagus. Padahal beberapa orang yang aku temui dengan kategori bule tidak juga sedap dipandang. Sementara ada temanku yang hidungku tidak mancung tapi kok terlihat manis ya saat tersenyum. Nah loh! ini’kan tidak bisa jadi patokan ya.

Kepuasan

Kebiasaan untuk mencela body shaming orang lain tujuannya kepuasan diri.Iih,seram ya. Dia akan puas apabila bisa mencela dan membuat kesal. Orang-orang seperti ini bila terus menerus akan merusak kesehatan mentalnya.Bisa jadi akhirnya menjadi pasien tetap psikiater. Woooowww….

Apa Yang Harus Dilakukan?

Saat Anda mengalami perlakuan body shaming dari orang lain tentunya tidak menyenangkan. Sangat mengganggu dan bisa jadi menyulut emosi. Untuk itu ini yang harus dilakukan:

Orang Waras Ngalah

Nah ini kata yang tepat tidak perlu menanggapi orang yang suka mencela, menghina fisik ataupun penampilan Anda. Kalau dia waras tidak akan melakukannya toh?!

BLOKIR

Ini juga bisa dilakukan. Orang yang menjadi toksik untuk hidup Anda tidak perlu diberikan ruang. Blokir semua yang berhubungan dengan akun sosial. Facebook, instagram, twitter, WA atau apa saja yang pasti tidak ada cela untuknya melontarkan kata-kata yang buat telinga panas.

Abaikan Saja

Aku punya teman sebut saja Lia namanya. Secara otak nih anak cerdas banget. Dari SD sampai kuliah selalu di negeri. Tapi sayangnya untuk fisik dia punya kekurangan tingginya tidak sampai 1 meter. Aku yang sudah biasa bergaul dengannya salud banget ketika Lia menjadi korban body shaming. Apa katanya?

Foto: Pinters

“EGP Dennise…” (Emang Gue Pikirin)

“Serius?!” dalam hatiku omongan itu terdengar menyakitkan

“Ngapain dipikirin. Gak berpengaruh juga dalam kehidupan gue. Abis energi mikirin yang gak penting”

Wow, keren banget ya. Boleh dicontoh nih. EGP yaaa…supaya waras

Bicara 4 Mata

Tidak semua orang bisa melakukan seperti hal yang disebutkan diatas. Wajar sih! karena sifat dan kesabaran setiap orang berbeda. Daripada terus dirundung kekesalan emosi lebih baik Anda mengajak untuk bicara 4 mata. Apa tujuan melakukan body shaming ke Anda? mengapa dia lakukan itu? Apa yang diharapkan dari Anda? dsb…nya.

Jika memungkinkan Anda bisa bicara 4 mata namun jika tidak bisa berikan pesan melalui WA, instagram ataupun facebook. Katakan juga lebih baik dia urus diri sendiri daripada urus kehidupan lain. Perlu keras dalam bersikap menghadapi orang seperti ini yaaa…

Katakan, I Love Myself

Tubuh kita adalah pemberian Tuhan. Percaya gak sih kita lahir itu sudah seiijin Sang Pencipta. Kita tidak bisa memilih lahir seperti apa bentuk tubuh + fisik maupun warna kulit. So apapun keadaan Anda saat ini cintailah dirimu sendiri dan tidak terus-menerus menyesali diri apalagi menyalahi Tuhan, dosa besar itu.

Terima diri kita apa adanya dan stop membandingkan diri dengan orang lain. Belajar mencintai diri sendiri membutuhkan proses, tapi jika diniatin, bisa kok! Katakan โ€œI love myself more than anyoneโ€ secara tulus agar kalimat ini memberikan kekuatan tersendiri bagi diri untuk hadapi body shaming.

So teman-teman yuk kita sama-sama menyemangati diri kita. Ciptakan kebahagiaan itu. Tidak ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan itu hanyalah milik Tuhan. (D/s)

66 thoughts on “Body Shaming? Jangan Panik!”

  1. mba dennise kebalikan dari aku nih, aku kecil kurus banget sampe kuliah pun masih kurus, inget banget dulu tuh bb-nya cuma 40 kg dengan tinggi 160 cm, keliatan banget kurusnya, makanya dulu aku tuh menghindari sekali pakai celana jeans krn bikin tambah terlihat kurus lebih suka pake dress karena lebih kasih volume ke tubuh gak terlalu nampak kurusnya gitu. krn srg dpt body shaming cungkring jadi lebih bisa menghargai orang lain yang punya body tidak “sempurna” dan tutup kuping aja sih emg sm org yg suka body shaming, bodo amat gitu deh

    Reply
  2. Aku pernah mengalami body shaming karena badanku yang kurus, kulitku yang gelap, dan gigiku yang tidak rata. Awalnya aku marah, jengkel, dan nangis. Tapi ya lama kelamaan aku mulai mengabaikan orang-orang yang suka body shaming itu. Aku juga selalu menyemangati diriku sendiri walaupun aku memiliki banyak kekurangan.

    Reply
  3. Emang ga perlu panik, sih. Sadari aja ada orang yang anggap bodi kita perlu dibenahi. Selama masih bisa dan bikin makin sehat, ya gpp diusahakan. Yang penting semua dijalani dengan hepi ya

    Reply
  4. Setuju banget Kak Dennise.
    Orang Waras Ngalah …. nah ini bagus nih jadi keyword, yaa. Betul, kalo waras gak akan mempermalukan orang lain untuk bentuk tubuh.

    Nah, temannya yang mengatakan EGP itu … mungkin bisa dicek ya, saya duga orang tuanya memang memberikan penghargaan yang sesuai, tidak pernah melecehkan anak jadi anaknya tidak mudah jatuh ketika dilecehkan ๐Ÿ™‚

    Reply
  5. Dulu aku pernah bahkan sering jadi korban body shaming karena warna kulitku yang gelap (termasuk jenis body shaming gak sih?)
    Aku sih cuek aja, EGP!
    Aku jawab dengan prestasi…
    Akhirnya gak ada lagi tuh…

    Reply
  6. saya nih korban body shamming karena sejak kecil bertubuh montok

    akhirnya sering gak makan supaya kurus,

    untuk ngelupain makan, caranya bepergian sampai kaki gempor

    hehehe gak sehat ya?

    karena itu sekarang saya diem aja di rumah (kebetulan pandemi) dan gendyut deh ๐Ÿ˜€

    Reply
  7. Kadang-kadang tuh Kak, mereka itu melakukan body shaming karena gak paham. Gak ngeh kalau apa yang disampaikan tuh terkadang menyakitkan hati orang yang diajak ngomong. Maksudnya bercanda tapi gak pas. Sering terjadi tuh di lingkungan keluarga.

    Pernah di 1 acara pernikahan sepupu, Oom saya yang memang “ringan mulut” mengomentari anaknya sepupu saya (Wulan). “Anak-anakmu ini loh kok item semua loh Wulan?” Yang diajak ngomong mutung dan langsung nyahut “Emangnya anak-anaknya Oom putih semua apa?” Makjleb. Semua langsung diem. Dalam hati saya sebenarnya saya pengen ketawa. Tapi takut digaplok hahahaha.

    Reply
  8. Kadang suka kesel juga sama pelaku body shaming, kok ya gak ada kerjaan lain apa selain ngata-ngatain orang.
    Memangnya dia sendiri bagus? Eh, hehe

    Reply
  9. saya waktu masih kecil hingga SMA sering kena body shaming, Mba, karena tubuhku kurus banget dan gigiku tonggos. Makanya sekarang gak mau banget bahas fisik karena mengingatkanku pada masa-masa buruk itu

    Reply
  10. Kebiasaaan juga di kita nih kalo manggil anak yang badannya gemuk atau kurus bukan dengan namanya. Walau bukan bermaksud menghina tapi tetep aja kalo yang punya tubuh gak nyaman jadi bikin illfeel.

    Reply
  11. Kebalikan sama aku. Aku dulu beratnya cuma 38 kg, Kalo abis puasa ramadan jadi 37 kg. Ya udah, aku kena body shaming. Aku akrab dipanggil wayang sakit badanku tipis banget kayak wayang kulit. Malah banyak yang bilang cowok2 gak bakalan tertarik sama aku yg badannya terlalu tipis. Pokoknya body shaming banget deh. Lama2 aku cuek. Bodo amat. Akhirnya mereka pada diam sendiri hahahha

    Reply
  12. Emang ya kak.. Kita gak bisa selalu bikin orang paham ttg body shaming.. Jadi ya udah.. Kita sendiri yang mengontrol untuk mencegah.. dengan membatasi dg teman2 yang model begitu

    Reply
  13. Temannya keren loh mba… bisa cuek kayak gitu. Dan bener juga katanya, ga usah dipikirin krn bakalan ngabis2in energi buat hal yang penting. Mungkin yang ngatain body shaming itu iri kali, karena nggak sepintar temennya mba Dennise jadi mencari kelemahannya.

    Reply
  14. Kaaaa, aku juga pas kuliah ngerasain hal yang sama karena saat itu kurussss banget. Sekarang aja yang udah agak naik beratnya. Cape tiap kali ketemu orang dibilang kurus banget, dikatain banyak makan. Ngga tau aja mereka aku kerjaannya makan terus tapi emang ngga naik-naik bb nya. Puji Tuhan sekarang udah naik bb dan ngejaga banget jangan sampe ngelakuin hal yang sama ke orang lain karena emang rasanya ngga nyaman banget. Body shaming putus di aku.

    Reply
  15. Waktu saya kecil dipikirkan sekarang ternyata dulu tuh banyak juga sebenarnya mengalami body shaming. Cuma jaman dulu gak ada istilah itu. Jadi ya cuek aja
    Ibarat guru jaman dulu mukul pakai penggaris, suruh push up atau lari keliling lapangan, bebas aja kan. Murid malah takut dan makin hormat. Sekarang wah bisa dipenjara guru seperti itu. Anehnya murid juga jadi gak menghormati sama orang yang lebih tua termasuk guru…
    Balik lagi ke bahasan artikel
    Bersyukur dengan kondisinya apapun kita ini ya…

    Reply
  16. saya waktu kecil juga pernah mengalami body shamming di sekolah jadi insecure banget dulu, tapi pas kelas 3 smu baru deh mulai membangun kepercayaan diri dan mulai mencintai diri sendiri, jadi lebih cuek kalau ada yang body shamming

    Reply
  17. Dewi jadi inget zaman smp dulu pernah juga mengalami body shamming, saat itu EGP juga sih. Malah bales dia juga, hihihi…. Makin besar kita makin mensyukuri dan memahami selalu ada perbedaan dari kekurangan dan kelebihan tiap orang ya mbak.

    Reply
  18. Jadi ingat masa kecil dulu, kalau aku kebalikannya badanya kurus meskipun makan banyak hahaha jadi sering dibilangin papan pengilesan sama temen2 jahat ya, dan itu berlangsung sampai SMP, aku sampai bilang ke mama beliin obat pengemuk badan tapi akhirnya aku cuek soalnya banyak tuh orang yang pingin kurus.

    Reply
  19. Waahh..suka sama penutupnya..tidak ada yg lebih mencintai diri ketimbang kita sendiri. Bener banget mba..jaman dulu aku juga pernah di shamming saudara karena aku lebih gendut dari anaknya ๐Ÿ™ˆ tapi alhamdulilah, perkataan itu berlalu sendiri karena buatku, setiap orang punya standar kebahagiaannya sendiri. Dan enggak semua meletakkannya sama tubuh. So, EGP ini paling mantul buatku

    Reply
  20. Hai Kak Dennise salam kenal.. Akupun gemuk dari lahir nih, haha.. Iya banget waktu kecil ada aja yang nyubit pipi dan dipanggil gendut pula, kesel juga ya digituin tapi gak sampe bikin insecure untungnya. Kalo ada yang masih body shamming aku cuekin, hehe

    Reply
  21. Waaaa aku di “body shaming’ in pas udah berumah tangga malahan

    Jadi adik iparku ada yang mulutnya juga tajam setajam silet. Dia bilang gendut lah apa lah.. kok bisa body bengkak dll sampe ada kalimat yang sangaaaat menyakitkan (just for me yang tau dan Allah)

    satu dua kali aku cuek, eh lama lama kok ngelunjak, yaaaa! Udah tau aku bengkak habis lahiran anak berturut turut 3 kali dan yang terakhir itu bermasalah sampai pendarahan berbulan bulan!

    mana ada sih orang mau jelek?

    akhirnya one day ku skak aja sekalian, pas dia lagi heboh cerita kalo anaknya dipermalukan di depan publik! Padahal anaknya “sempurna” tapi yang dipermalukan karyanya atau prestasi gitu, dan aku bilang, “Ya makanya jangan suka ngatain orang, jadi bumerang.” sambil berlalu.

    alhamdulillah musuhan sampe hampir 10 tahunan dan aku tiap lebaran mau ketemu harus siap mental baja, muka tembok

    toh aku datang ke rumah mertua, ketemunya ama dia di sana kok, bukan niat mau ketemu dia hihihiiii.. well abis itu entah kenapa dia bermasalah terus sama kakak kakak ipar lainnya, dan hanya aku yang cool man… baru deh dia mikir nyesel kali ya udah bermulut setajam silet

    Reply

Leave a Comment