Good Day = Hari Baik

Foto: Pinters

“Tante jadi kapan restaurantnya di buka?” tanyaku sama tante Syul yang baru memulai usaha restaurant Chines Food.

“Comming soon-lah Dennise!”

“Loh memang SDM nya belum lengkap tan?”

“Semua sudah lengkap, peralatannya juga sudah lengkap. Tapi’kan tante harus tunggu hari baik

“Maksudnya good day tan?”

“Iya lah Dennise. Kita’kan buka usaha tidak bisa sembarangan masuk harus lihat hari apa baiknya”

“Tapi bukannya semua hari baik tan Tuhan ciptakan, apakah ada bahayanya kalau tidak lihat hari atau sembarangan saja di hari apa saja bukanya”

“Katanya begitu Dennise. Yang sudah-sudah teman tante buka usaha asal eh sial. Kalau hanya sial merugi saja tidak apa-apa. Tapi ini bangkrut bahkan ada yang makan korban”

“Tante percaya itu?”

“Percaya gak percaya tetapi kenyataannya memang ada dan terjadi”, tutur tante meyakinkan.

“Memangnya buka usaha harus pakai klenik tan?”

“Ah gak tahu deh Dennise.Tante gak mau baru buka usaha malah apes karena gak ikutin petunjuk melihat hari”

Aku cuma tertegun. Di zaman modern seperti ini orang seperti tanteku yang seorang Insinyur masih percaya yang seperti itu.

Mitos hari baik tidak saja terjadi pada pengambilan hari dan tanggal untuk usaha, tetapi juga di hari pernikahan.

Suatu hari aku bertemu dengan teman SMA yang lama tidak bertemu. Riri namanya memang rada telat menikah di usia 40 tahun.

“Bagaimana jadi kamu menikah dengan Risman?”

“Jadilah. Tetapi tidak bisa cepat-cepat”

“Loh kalau keduanya sama-sama cocok tunggu apa lagi?”

“Itu’kan menurutmu. Beda dengan cara pandang orangtuaku dan Risman. Mereka Jawa totok yang percaya dengan adanya hari baik dan mereka sepakat berdua untuk melihat hari baik kami akan menikah.”

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa untuk menggelar sebuah pesta pernikahan ataupun hajatan harus melihat baik yang disesuaikan dengan perhitungan weton (penanggalan)

Masyarakat Jawa percaya hari pernikahan harus dipilih dengan perhitungan khusus. Sebab hari pernikahan dipercaya mempengaruhi hubungan rumah tangga kedepannya. Untuk menentukan hari pernikahan terbaik, para sesepuh biasanya menghitung weton dan tanggal lahir dari kedua calon mempelai.

Tak jarang, orang tua yang memegang teguh tradisi ini akan memaksa anaknya putus dengan pasangannya apabila hasil penghitungan tidak menunjukkan hasil dan kecocokan yang diharapkan. Ini juga dialami oleh temanku Ratna dan Bambang. Sebenarnya keduanya besar di kota metropolitan dan mereka bergaul dengan lingkungan di luar suku Jawa. Keduanya berpacaran dari semester akhir kuliah hingga sama-sama bekerja.

Cukup lama mereka menjalin kasih, 4 tahunan. Ketika keduanya sama-sama cocok, bertemulah kedua anggota keluarga besar untuk menentukan hari baik pernikahan. Ternyata hitung punya hitung tidak cocok tanggal keduanya. Dan kedua belah keluarga sepakat untuk tidak meneruskan ke jenjang pernikahan. Terkesannya sadis ya, tetapi inilah kepercayaan budaya yang masih di pegang teguh bagi sebagian orang termasuk yang berpendidikan tinggipun tidak bisa menolak.

Namun jika hasil perhitungan tanggal kecocokan dan dirasa pas, nah kedua pasangan akan melanjutkan ke pernikahan dan tentunya di dukung oleh keluarga.

Orang tua calon mempelai akan menentukan tanggal pernikahan berdasarkan penanggalan Jawa. Disarikan dari beberapa informasi tentang perhitungan kalender Jawa dikenal hari terdiri dari lima hari yakni Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Hari pasaran ini digabungkan dengan hari penanggalan Masehi, misalnya Senin Legi, Senin Pahing, Senin Pon, Senin Wage, Senin Kliwon, dan lainnya.

Perhitungan weton ini, sangat penting bagi orang Jawa terutama saat akan melaksanakan suatu acara penting seperti pernikahan, pindah rumah ataupun buka usaha.

Karena digunakan untuk menentukan keputusan penting, maka cara menghitung weton tidak bisa dilakukan sembarangan. Biasanya perhitungan weton diserahkan kepada orang yang dituakan dan dianggap memiliki cukup ilmu untuk melakukannya.

Untuk menentukan hari baik menurut weton Jawa, ada beberapa cara yang dapat dilakukan yaitu sebagai berikut:

Menjumlahkan Hari Lahir

Hal yang pertama dilakukan adalah mengetahui hari lahir masing-masing calon mempelai, kemudian menjumlahkannya berdasarkan weton Jawa. Sama seperti kalender Masehi, dalam kalender Jawa juga memiliki 7 hari dalam seminggu, Senin hingga Minggu.

Dalam kalender Jawa, terdapat nilai atau jumlah dari masing-masing hari. Nilai-nilai tersebut yaitu sebagai berikut:

1. Minggu bernilai 5

2. Senin bernilai 4

3. Selasa bernilai 3

4. Rabu bernilai 7

5. Kamis bernilai 8

6. Jumat bernilai 6

7. Sabtu bernilai 9

Ketika sudah mengetahui bobot angka hari, maka selanjutnya menghitung nilai hari pasaran lahirnya pihak laki-laki ataupun perempuan.

Hari pasaran juga memiliki nilai masing-masing. Nilai-nilai tersebut yaitu sebagai berikut:

1. Kliwon bernilai 8

2. Legi bernilai 5

3. Pahing bernilai 9

4. Pon bernilai 7

5. Wage bernilai 4

Hasil penjumlahan hari dan pasaran bernama neptu. Misalkan pria lahir pada Jumat Pahing, berarti 15 dan wanita lahir pada Minggu Wage, maka 9. Kemudian jumlah neptu pria ditambah neptu wanita hasilnya 24.

Cek…cek…cek…rumit ya

Menurut masyarakat Jawa, perhitungan weton ini penting sebab berkaitan dengan hari-hari penting, seperti melaksanakan acara pernikahan, pindah rumah, dan masih banyak lagi. Bahkan weton juga bisa meramal keberuntungan dan jodoh seseorang, lho!

Secara umum, weton digunakan untuk mencari hari baik agar terhindar dari hari yang dianggap membawa peruntungan buruk alias sial.

Hari Baik Untuk Usaha

Ternyata bukan saja pernikahan yang perlu di lihat hari baiknya untuk memulai usahapun beberapa pelaku usaha masih yang berpatokan pada hari baik. Menurut adat Jawa hari baik diyakini sebagai hari pembawa keberuntungan sesuai dengan perhitungan Jawa. Berikut ini dari hasil penelusuran penulis seperti ini caranya melihat hari baik untuk usaha.

Yang pertama dilihat adalah watak / sifat hari penurut perhitungan Jawa. Ini digunakan untuk menentukan waktu yang tepat melaksanakan mulai usaha. Berikut ini sifat hari berdasarkan hitungan Jawa untuk buka usaha.

Senin

Dalam perhitungan Jawa, Senin adalah good day alias hari baik untuk buka usaha

Selasa

Selasapun termasuk dalam hari baik untuk membuka usaha

Rabu

Di hari ke-3 ini termasuk hari baik untuk buka usaha. Namun tidaklah sebaik hari Senin ketika buka usaha. Ada kemungkinan di tengah jalan menghadapi tantangan.

Kamis

Sebaiknya tidak membuka usaha di hari Kamis. Karena dalam perhitungan Jawa jika buka di hari ini akan mengalami kesulitan atau hambatan.

Jum’at

Hari ke-5 ini seringkali banyak yang tidak mau buka usaha di hari itu. Karena di percaya hari ini tidak baik jika membuka usaha. Dipercaya jika membuka usaha di hari itu maka mengalami kesusahan/ gangguan.

Sabtu

Diantaranya banyak hari, Sabtu di penanggalan Jawa dipercaya merupakan hari yang tersulit ketika membuka usaha dan berat dalam memulai berbisnis.

Minggu

Hari ke-7 ini dianggap hari yang netral dalam membuka usaha. Tidak baik tapi tidak buruk juga.

So friends,

Believe or not sampai saat ini masih banyak orang yang percaya dengan hari baik yang ditentukan oleh hitung-hitungan kepercayaan tertentu. Aku jadi ingat ketika menikah secara adat Batak sekian puluh tahun yang lalu. Kedua belah keluarga hadir berembuk hari. Penasaran dong apakah di suku Batak juga mengenal hari baik?

Ternyata para tetua itu bukan melihat baik melainkan melihat jadwal kosong gedung pertemuan Batak. Karena paling cepat 6 bulan di muka sudah di booking. Dan umumnya suku Batak menjalankan adat Batak di hari Jum’at / Sabtu.

Berharapnya sih Sabtu supaya banyak tamu yang hadir karena libur kerja. Tetapi kalau slot gedung penuh di hari Sabtu dan masih lama waiting list sewa gedung maka pesta diadakan di Jum’at.

Bagi aku secara pribadi all day is good day. Bagaimana dengan Anda? (D/s)

77 thoughts on “Good Day = Hari Baik”

  1. Sadis sekali itu ya kedua belah pihak keluarga langsung bubar jalan hanya karena tidak menemukan titik baik, tanggal keramat yang cocok, hadeh! πŸ™ Sedih ini sebeneranya. Sudah 4 tahun berpacaran eh ya kok ga jadi menikah huhuhu πŸ™ Aku bilang, semua hari adalah baik, tergantung kita aja. Alhamdulillaah aku dan keluarga termasuk keluarga suami ga main beginian hahaha πŸ˜€ TFS mbak Dennise.

    Reply
  2. iya sekarang acara nikahan sering diadakan Hari Sabtu karena kalau Minggu acara keluarga, apalagi di gedung ya. Tapi, mau acara hari apa aja emang banyak pertimbangan, keluarga besar biasanya banyak mempengaruhi keputusan.

    Reply
  3. Sebagai muslim saya percaya rukun iman termasuk qodo dan qodar. Jadi semua hari itu baik
    Mungkin kepercayaan leluhur saja ya dan saya pikir itu hal biasa asal kita tidak memperdebatkan saja

    Reply
  4. Bicara hari baik semua memang baik. Kalau yang sakral itu pernikahan yang banyak melakukan perhitungan hari. Saya pernah seminggu setelah oernikahan, istri langsung di boyong ke Jember dari Malang. Kata orang ga baik. Akhirnya saya sampaikan, segala yanh dimulai dengan niat mencati RidhoNya akan baik.

    Yapi kembali lagi pada masing-masing pribadi. Mjnhkin ada dasar perhitungan yang tidak kita tahu.

    Reply
  5. Aku salah satu turunan jawa totok yang memang percaya kalo nikahan, hajatan melalui perhitungan dan tanggal plus hari baiknya, hehheee.
    Dan memang itu ga bisa didebat, karena namanya udah tradisi dan kebudayaan sana. Ngikut aja, insyaallah terbaik.
    Namun seiring waktu pun, sekarang percaya banget kalo semua hari adalah baik asalkan gimana niat kita aja.

    Reply
  6. Sama mba, buatku semua hari itu baik. Mana ada Tuhan menciptakan hari yang buruk bagi manusia. Tapi ya gitu dehhh… kadang2 perhitungan neptu tadi tuh masih aja dijalankan. Dulu aku pas menikah ga pake hitung2an gitu. Milih pas hari Minggu aja biar banyak teman yang bisa hadir, tanggalnya pun tepat sehari sebelum hari lahirku, jadi gampang untuk mengingat-ingatnya.

    Reply
  7. sayapun waktu menikah mencari hari baik

    sekadar untuk menghormati keputusan alm ibunda

    walau akhirnya disesuaikan dengan situasi dan kondisi πŸ˜€ πŸ˜€

    sesudah berumahtangga saya gak pernah peduli hitung2an karena menurut saya semua hari adalah baik

    Reply
  8. Enggak semua orang Jawa juga Kak yang seperti ini..
    Saya aja yang Jawa dan orangtua masih di kampung, sudah beranggapan semua hari baik . Kalaupun masih ada yang memilih hari, bisa jadi ada pertimbangan tersendiri.
    Setahu saya suku lain juga ada hari baik, di Bali misalnya , – saya pernah 8 tahun di sana- kalender Bali penuh dengan daftar hari, kapan cocok buka usaha, kapan baik untuk apa dan lainnya

    Reply
  9. Jadi ingat saat aku mau menikah, Bapak tuh bilang gini ke calon mertua, “Semua hari itu baik. Dan paling baik di keluarga kami adalah hari Minggu. Karena semua saudara libur kerja, jadi bisa datang ke acara pernikahan.”

    dari situ aku sadar, Mbak, hari baik bisa ditentukan karena kesepakatan dengan aktifitas sehari-hari.

    Reply
  10. Masih banyak loh Kak yang percaya dengan mitos yang terbawa dari budaya. Terutama untuk masalah pernikahan dan bisnis seperti yang Kakak tulis di atas.

    Alhamdulillah saya sempat juga tuh ngalamin. Ada yang bilang kalau menikah di bulan Rajab, pernikahan akan banyak cobaan. Tapi saya dan suami tidak terpengaruh. Bagi kami, selama diiringi dengan niat baik, halal dan tidak ada halangan secara keimanan, pernikahan inshaAllah membawa keberkahan.

    Reply
  11. Saya suka kagum, kok bisa ya orang menghitung hari baik ataupun tidak baik. Padahal Tuhan menciptakan bumi dengan banyak kebaikan, tapi oknumlah yang membuatnya menjadi tidak baik (menurut saya hehehee)

    Reply
  12. Jaman mbah-mbahku dulu masih begini Kak Dennise. tapi kami sekeluarga ya fine-fine aja sih, nggak berusaha mendebat kepercayaan dan tradisi orang tua. Syukur alhamdulillah gak pernah ada masalah berkaitan dengan weton dan hari baik. Begitu Mbah udah gak ada ya udah gak ada itung-itungan lagi. Kami percaya semua hari baik asalkan dipersiapkan dengan baik. Yang gak baik itu kalau tanpa persiapan, hehe.

    Postingannya menarik nih. Jadi nostalgia masa lalu.

    Reply
  13. Masih ada sih daku denger tentang hari baik ini. Kembali kepada diri masingΒ² jadinya ya.
    Apapun harinya, yang penting sedang dalam keadaan leluasa, hehe.

    Reply
  14. Di bagian hari baik untuk usaha (yg Sabtu tidak baik) sebenarnya bertentangan dengan nilai Sabtu yang paling tinggi yaitu 9. Bisa dimaklumi karena memasukkan unsur yg lebih modern yaitu pembuka untuk hitungan minggu. Tapi ini juga bukan asli Jawa. Kalau Jumat dikatakan tidak baik mungkin karena pada hari itu kebanyakan orang Islam lebih fokus pada ibadah dan sedekahnya
    Tapi tetap saja, bahasan ini menarik juga untuk dibahas dan disampaikan.

    Reply
  15. Saya sebagai orang Jawa malah nggak hapal hitungan hari dan weton ini mbak. Saya pun berprinsip bahwa semua hari itu baik. Kalau di Jawa, ada lagi hitung-hitungan anak pertama itu nggak boleh nikah sama anak ke tiga. Jadi dulu kakak saya nomor 3, pacarnya tuh anak pertama dalam keluarganya. Saat pertemuan keluarga yang dihadiri para tetua, langsung deh ditentang, suruh bubar. Tapi kakak saya nggak mau dengar omongan para tetua, tetap aja menikah. Alhamdulillah sampai sekarang pernikahan mereka tetap awet dan bahagia

    Reply
  16. Baru tau nih kak aku hitung-hitungan tanggal dan hari baik gitu biasanya cuma dengar aja. Pernah sih waktu nikah ada tetangga yang nyaranin tanggal baik tapi aku nggak pakai karena bagi ku semua hari dan tanggal baik hehe

    Reply
  17. Kadang untuk beberapa daerah itu memang harus menggunakan perhitungan dan melihat hari baik. Aku jadi teringat waktu ingin menikah, keluarga papahku sibuk menghitung dan menetapkan tanggal pernikahan. Kebetulan aku orang Jawa dan keluarga kami masih kental budayanya jadi pasti akan melakukan perhitungan seperti itu mak.

    Reply
  18. Bagiku pribadi sih semua hari baik mak. Ga percaya sama yg kaya gitu2. Dulu aku nikah juga bulan sura (muharram) kalo kata orang jawa sih bulan yg ga baik tapi alhamdhulilah baik2 aja kami sampe sekqrang. Insyaallah selama niat kitq baik Allah mudahkan langkah kita. Gitu aja sih kalo aku

    Reply
  19. Masih banyak ya masyarakat yang memegang hitungan hari baik ini. meskipun aku selalu percaya setiap hari itu baik asal kita berusaha untuk menjadi baik, setidaknya kita tetap menghargai apa yang sudah jadi budaya dan mereka percayai

    Reply
  20. Memang begitu kepercayaan orang jawa khususnya yang dulu. Mereka percaya perhitungan hari, weton, dan lain-lain. Bahkan ada buku panduannya namanya primbon. Tapi sekarang banyak juga yang nggak pakai itung-itungan itu. Semua hari baik, yang penting selalu diiringi doa untuk memulai usaha atau hajat apapun

    Reply
  21. Saya percaya semua punya hikmah di bali kejadian
    Seperti Tuhan menghadirkan 7 hari pasti dengan keistimewaan masing-masing
    Makanya harus selalu semangat setiap hari

    Reply
  22. Kak Denise kok tau banget?
    Hihii…aku dulu sebelum menikah juga di hitung dengan detail weton dariku dan calon pasangan untuk menentukan hari pernikahan sampai ke jam-nya.
    Unik yaa..
    Yang bisa menghitung begini sampai sekarang adalah Ibu dan mama mertuaku. HIhi… Meski bilangnya udah gak dipake lagi..tapi sering iseng-iseng aja masih melakukan.
    Hari baik dalam Jawa memiliki falsafah khusus yang harus dipahami sejarahnya.

    Reply
  23. Ini agak ribet sih ya Mbak, etapi emang masih banyak yang menggunakan itung-itungan seperti itu. Kalau saya sendiri, semua hari baik. Jadi gak make itung-itungan seperti itu.

    Reply
  24. Tooss mb Denise all day is good day apalagi hari Jum’at karena besok weekend hahaha. Sejak kuliah lagi aku ngerasa banget seneng banget kalo ketemu weekend. Karena kebanyakan kalo urusan kerja aku malah mau weekend mau enggak tetep kerja hahaha

    Reply
  25. bagi aku hari apa aja baik selagi asih bsia hidup dan diberi kesempatan untuk beraktivitas. namun ada sebagian dan bahkan banyak orang yang mempercayai hal ini itu buat menunjukkan hari baik bagi dirinya, yah aku hargai aja, hehehe. apalagi tinggal di Indonesia kan yah

    Reply

Leave a Comment